
Ar-Ridho – Sabtu malam (07/06) menjadi malam penuh kehangatan, tidak hanya karena bara arang yang menyala, tetapi juga karena keakraban yang terjalin antara para santri dan wali kelas mereka dalam acara Nyate Bareng yang digelar di depan Gedung Madinah Utama, Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho Sentul.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, momen nyate kali ini terasa lebih spesial. Jika biasanya para santri berkumpul dengan kelas masing-masing, maka pada tahun ini seluruh santri duduk rapi berbaris panjang mengikuti bentangan depan gedung, membentuk satu jalur arang yang membentang dari ujung ke ujung. Pemandangan ini tak hanya unik, namun juga simbolis: menunjukkan kesatuan dalam keberagaman, dan kebersamaan yang mengalir dari kelas ke kelas.

Masing-masing kelas duduk bersama wali kelas mereka, menyiapkan tusukan sate, meniup arang, dan berbagi cerita sembari menunggu daging matang. Tawa, canda, dan diskusi hangat menjadi bumbu pelengkap yang membuat malam itu tak sekadar soal makanan, tetapi juga soal kebersamaan yang berharga.
“Ini bukan hanya acara bakar sate, tapi momen untuk mendekatkan diri antara santri dan wali kelasnya. Di sinilah ukhuwah itu tumbuh,” ungkap salah satu wali kelas dengan senyum hangat.

Tidak sedikit santri yang mengaku merasakan suasana kekeluargaan yang lebih erat. Momen ini seakan menjadi ruang jeda dari rutinitas harian, tempat di mana mereka bisa berbagi, mendengar, dan merasa didampingi secara lebih personal oleh para pembimbing mereka di kelas.
Di akhir acara, barisan arang yang semula hanya sekadar tempat memanggang berubah menjadi simbol: simbol kebersamaan yang menyala, seperti bara yang tak mudah padam. Semoga nyala ini terus tumbuh, menghangatkan hati para santri dalam setiap perjalanan mereka di pondok tercinta.

