Putus Mata Rantai Trauma, Kajian Keluarga Bersama Ustadz Fatih Karim.

Palmerah, Jakarta Selatan – Yayasan Ar-Ridho Palmerah mengadakan seminar parenting pada Jum’at (5/6/2026) dalam rangka memperbaiki cara didik dan pola asuh orang tua maupun guru terhadap anak-anaknya di sekolah, pun bagi para dewan guru di sekolah. Seminar ini dihadiri oleh salah satu da’i terkenal di Indonesia yang sudah membangun kurang lebih 99 masjid di dalam negeri maupun luar negeri, Ustadz Fatih Karim bersama sahabatnya Coach Soni Abi Kim.

Coach Soni Abi Kim menyampaikan bahwa peran pendidikan anak baik putra maupun putri di sekolah tidak serta merta menjadi tanggung jawab guru, melainkan pendidikan itu dimulai dari rumah. Bagaimana seorang ayah-ibu mendidik mental anaknya, kesehatan jasmani dan jiwanya itu semua turut berpengaruh membentuk kesiapan anak untuk berangkat ke sekolah, mengikuti kegiatan hingga pulang lagi.

Dalam arti singkatnya, tidak boleh bagi orangtua bersikap tak acuh terhadap perkembangan lahir dan batin di rumah dan menyerahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah, apalagi sampai menyalahkan guru pada kesalahan atau kekurangan anaknya.

Masih dalam momen yang sama, Ustadz Fatih Karim memaparkan konsep Lingkaran Hidup yang meliput Qadha dan Qadar. Beliau menyampaikan bahwa setiap pribadi manusia pasti akan dihadapkan dengan segala ketentuan Allah yang tidak bisa dihindari atau dipilih, seperti memilih akan dilahirkan oleh siapa di keluarga yang mana.

Di balik setiap takdir yang tidak disukai, pasti tersimpan rencana Allah yang jauh lebih baik,” ungkap Ustaz Fatih Karim di hadapan para jemaah dan santri.

Kajian ini juga menyorot dampak psikologis dari luka pengasuhan atau trauma masa lalu, seperti perceraian orang tua hingga kekerasan dalam rumah tangga. Coach Soni Abi Kim menjelaskan bahwa luka jiwa yang dibiarkan tanpa penanganan tuntas berpotensi besar terulang kembali pada generasi berikutnya. Selain melemahkan hati, hal ini juga dapat memicu keputusasaan yang menghambat konsistensi seseorang dalam berbuat kebaikan.

Namun, kajian ini membawa angin segar bagi para jemaah. Allah SWT selalu membuka jalan bagi hamba-Nya untuk tidak sekadar sembuh, melainkan bertumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih hebat melalui konsep Post-Traumatic Growth. Proses menata ulang kehidupan (reset) ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu:

  1. Kesembuhan Pikiran (Mind)
  2. Kesembuhan Hati (Heart)
  3. Kesembuhan Tindakan (Action)

Sebagai bekal praktis sehari-hari, kajian ini merumuskan metode “3M” yang sangat relevan untuk diaplikasikan oleh para jemaah maupun santri Pondok Pesantren Modern Arridho Sentul dalam menghadapi ujian hidup:

  1. Mengaku: Menerima kelemahan diri sebagai manusia biasa di hadapan Allah dan tidak berpura-pura kuat.
  2. Mengadu: Senantiasa menumpahkan segala keluh kesah dan beban hidup hanya kepada Allah SWT melalui doa.
  3. Menyibukkan Diri: Memaksa diri untuk terus aktif dalam lingkaran amal saleh agar tidak terjebak dalam kesia-siaan.

Harapannya para orangtua bisa memutus hal-hal buruk yang pernah mereka alami di masa lalu, bagi yang tidak merasakan supaya bisa menghindari kejadian buruk yang orang lain rasakan terjadi pada anak-anaknya.

Berita Terbaru

Related Articles