Menguatkan Kemitraan, Kolaborasi untuk Kemajuan Pendidikan: FAIPG Universitas Djuanda Gelar Pengabdian kepada Masyarakat di Ar-Ridho Sentul

Ar-Ridho – Kamis (06/08), Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026 di Aula Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho Sentul. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Pesantren dan Keluarga dalam Pencegahan Kekerasan Seksual melalui Dual Capacity Building School Family Partnership.”

Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri atas dewan guru dari berbagai bagian, yaitu Staf Pengasuhan Santri, Musyrif dan Syekh Asrama, serta Ustadzah Pendidikan Islam Ar-Ridho (PIAR). Program ini menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam memperkuat kapasitas pendidik untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh peserta didik.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Direktur KMI Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho Sentul, Al-Ustadz Muhammad Tohari, S.Pd., yang mewakili pihak pondok dalam menyambut dan menerima tim pengabdian dari FAIPG Universitas Djuanda. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama yang diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren.

Selanjutnya, seluruh peserta mengikuti pre-test melalui tautan yang telah dibagikan sebagai langkah awal untuk mengukur pemahaman peserta sebelum memasuki sesi materi.

Materi utama disampaikan oleh Dr. Abdul Kholik, M.Pd. yang menegaskan bahwa pondok pesantren merupakan sistem pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa seluruh lembaga pendidikan tetap harus memiliki sistem pencegahan yang komprehensif terhadap kekerasan seksual.

Beliau menjelaskan bahwa pencegahan tidak dilakukan karena rasa curiga, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap seluruh warga sekolah. Mengutip data KPAI, tren kekerasan di lingkungan pendidikan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga lembaga pendidikan perlu membangun langkah preventif sejak dini, bukan menunggu hingga terjadi kasus.

Salah satu strategi yang ditekankan adalah penerapan Dual Capacity Building School Family Partnership, yaitu memperkuat sinergi antara pesantren dan keluarga dalam mendidik serta melindungi anak. Kesamaan visi antara lembaga pendidikan dan orang tua dinilai menjadi kunci dalam membangun budaya yang menolak segala bentuk kekerasan serta menciptakan sekolah yang ramah anak dan inklusif.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Kak Asa, yang membahas Konvensi Hak Anak, delapan pilar pemenuhan hak anak, empat prinsip utama Konvensi Hak Anak, konsep kelas inklusif, tantangan dan strategi pelaksanaannya, hingga berbagai bentuk kekerasan seksual yang perlu dikenali oleh para pendidik.

Sementara itu, Kak Nur menyampaikan materi mengenai faktor risiko dan faktor pelindung, dampak kekerasan seksual terhadap korban, peran pendidik dalam penanganan kasus, strategi pencegahan, serta penyusunan rencana aksi untuk membangun budaya sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan.

Setelah selesainya kegiatan ini, FAIPG menghibahkan beberapa CCTV untuk menunjang pengawasan area lingkungan pesantren, sistem aplikasi yang terintegrasi antara pihak pondok pesantren dengan wali santri (dalam tahap proses), serta modul materi yang sudah disampaikan saat itu.

Melalui kegiatan ini, FAIPG Universitas Djuanda bersama Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho Sentul berharap dapat memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi, pesantren, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berorientasi pada perlindungan anak. Sinergi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun budaya pencegahan sehingga setiap peserta didik dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, penghormatan, dan perlindungan.

Berita Terbaru

Related Articles